Pembelajaran Daring Kapan Berakhir?


Dimasa pandemi Covid-19 yang melanda hampir di seluruh belahan dunia ini berdampak pada perubahan signifikan dalam kehidupan sehari-hari. Rajin cuci tangan, memakai masker, menjaga jarak adalah protokol kesehatan yang kini sudah menjadi kebiasaan disetiap harinya.

Pada awalnya saat virus Covid-19 merebak yang kemudian sekolah-sekolah mulai diliburkan, nampaknya anak-anak ini sangat bahagia dan senang sekali dengan hal ini. Bagi mereka ini adalah libur panjang meskipun harus selalu berada di rumah demi mencegah penularan virus ini terus berlanjut. Untuk melanjutkan pelajaran pada semester genap ini untuk menuju kenaikan kelas dan kelulusan maka pembelajaran dilanjutkan dengan sistem daring.

Pada awalnya senang juga dengan sistem ini karena anak dapat lebih mengenal teknologi secara langsung dan ini merupakan hal baru. Anak-anak terlihat sangat antusias dengan hal ini. Namun jiwa anak-anak serasa terkekang juga karena tidak bisa bebas bermain bersama teman-temannya seperti pada saat jam istirahat.

Hingga akhirnya pembelajaran daring ini melewati masa-masa kenaikan kelas dan juga kelulusan. Anak Saya merupakan salah satu siswa SD yang lulus dimasa pandemi ini sehingga Alhamdulillah bisa lulus tanpa melalui UN. UN atau Ujian Nasional sendiri diwacanakan akan dihapus mulai tahun 2021, namun sepertinya dipercepat menjadi tahun 2020 ini. Dengan nada bercanda lulusan ini dijuluki sebagai lulusan corona.

Pembelajaran Daring Bikin Repot?

Sebagai orangtua yang notabene bukan seorang guru, pembelajaran daring ini dalam prosesnya mau tidak mau melibatkan orangtua dalam kegiatan belajar mengajar. Setidaknya orangtua mendampingi anaknya untuk setiap mata pelajaran yang diajarkan setiap harinya, entah itu untuk membantu mengerjakan tugas yang diberikan atau menerangkan kembali materi yang disampaikan gurunya karena tidak menutup kemungkinan pada metode daring ini ada beberapa materi yang tidak ditangkap dengan baik oleh siswa.


Bisa jadi karena siswa belum terbiasa dengan metode ini, bisa karena siswa kurang memahami materi sepenuhnya, bisa dikarenakan jaringan internet yang tidak medukung, atau sebab yang lainnya. Dengan demikian para orangtua harus meluangkan waktunya secara khusus untuk mendampingi putra putrinya dalam pembelajaran daring seperti ini. Paling tidak ini yang Saya rasakan selama ini.

Jadi dalam hal ini Saya merasa perlu belajar kembali untuk bisa menyampaikan kembali materi yang mana anak Saya kurang paham.

Beberapa waktu lalu Saya mendapat undangan dari sekolahan anak dalam acara silaturahmi wali murid dengan pihak sekolah. Memperhatikan lingkungan sekolah sepertinya sudah bersiap untuk melakukan proses belajar secara bertatap muka dengan menyediakan sarana cuci tangan yang memadai, tes suhu tubuh, lingkungan yang bersih dengan sinar matahari yang cukup, juga jarak bangku antar siswa juga sudah diterapkan. Tinggal menunggu instruksi dari pemerintah setempat saja terkait sistem pembelajaran tatap muka kapan bisa dilaksanakan.

Pihak sekolah juga mengiformasikan bahwa ada potongan pembayaran SPP bulanan karena siswa belum aktif belajar disekolah. Terkait dengan proses belajar mengajar yang secara daring, pihak sekolah juga memberikan kuota internet 9GB kepada masing-masing siswa selama pembelejaran daring berlangsung. Alhamdulillah ya.

Kebijakan seperti tentunya berbeda satu sekolah dengan lainnya ya, namun setidaknya ini bisa membantu pada proses belajar mengajar yang berlangsung.

Kapan Pembelajaran Daring Akan Selesai?

Mungkin banyak yang menanyakan akan hal ini, termasuk Saya pribadi. Mengingat anak Saya sekarang kelas VII yang mana berada di sekolah baru, teman-teman baru dan guru-gurunya juga baru. Untuk bertemu dengan teman-teman baru sekelas atau seangkatan sementara ini hanya melalui video conference. Pastinya anak-anak ini juga merindukan untuk saling bertemu bertatap muka dan menjalani proses belajar secara normal.

Dengan seorang anak yang belajar secara daring saja terkadang merasa kewalahan, Saya jadi membayangkan betapa repotnya orangtua yang mempunyai dua atau tiga anak yang bersekolah dengan metode pembelajaran daring seperti saat ini terlebih dimana anak-anak yang masih berada di sekolah dasar. Sehingga dengan demikian adalah wajar jika para orangtua menginginkan proses belajar mengajar ini secara normal seperti sebelum adanya pandemi.

Namun juga jangan asal ngotot untuk menuntut proses belajar mengajar secara normal dan bertatap muka disekolah yang mana situasi dan kondisi masih belum sepenuhnya terbebas dari virus corona. Jangan sampai dengan adanya proses belajar mengajar disekolah nantinya akan dapat menimbulkan cluster baru. Silahkan baca juga cara aktivasi paket kuota belajar Telkomsel.

Sebaiknya ikuti saja anjuran dari pemerintah yang tentunya memperhatikan perkembangan status zonanya di masing-masing daerah. Semoga pandemi Covid-19 segera berlalu dan anak-anak bisa bersekolah kembali agar apa yang di cita-citakan dapat tercapai. Aamiin.